Jumat, 08 Maret 2013

Tragedi Munich 1958: Kami Takkan Melupakan MU





Bagi sebagian orang mungkin tanggal 6 Februari hanyalah sebuah hari biasa saja. Tapi tidak untuk pecinta sepakbola baik di Indonesia maupun seluruh dunia, apalagi para fans “setan merah”. Dimana pada 6 Februari 1958 merupakan salah satu sejarah kelam bagi dunia persepakbolaan khususnya Manchester united (MU). Tim yang di arsiteki oleh Sir Matt Busby lagi berada di masa emasnya – diprediksikan akan mendominasi sepak bola Eropa dan lagi menuju treble pertamanya. Piala eropa, Liga, dan FA-dengan skuad yang sebagian besar masih muda belia maka orang-orang menyebutnya “The Busby Babes”.

Keperkasaan MU

Setelah mengalahkan lawan sebelumnya di ajang piala eropa, MU dipastikan akan melawan Red Star Belgrade (RSB) dari Yugoslavia di perempat final. Pada leg pertama tanggal 14 Januari 1958 di Old Trafford, MU berhasil mengalahkan RSB 2-1, gol diciptakan oleh Charlton dan Colman. Lalu leg kedua akan dilakukan pada 5 Februari 1958 di Belgrade. Pertandingan tersebut sangat ketat dan menarik seperti yang di ceritakan oleh Sir Bobby Charlton, salah satu pemain yang selamat dari kecelakaan tersebut..

Pada setengah jam pertama, MU mendominasi permainan sehingga mereka bisa unggul 3-0. Namun mereka (RSB) mulai bangkit, pertandingan pun menjadi semakin seru ketika lima menit sebelum usai, RSB berhasil menyamakan kedudukan. MU yang sudah unggul di leg pertama pun harus mempertahankan hasil ini. Untungnya wasit meniup tanda berakhirnya pertandingan. Sangat menegangkan dan fantastis, kenang Charlton yang berhasil mencetak 
2 gol pada pertandingan tersebut.

Detik Detik Terakhir

Setelah pertandingan itu, 6 Februari 1958, Tim pun melakukan perjalanan pulang menuju Manchester. Dalam perjalanan tersebut, pesawat dengan no penerbangan British European Airways Flight 609 harus melakukan isi bahan bakar di Bandar udara Munich Riem, Munchen Jerman.

Setelah mengisi bahan bakar, dalam keadaan dingin dibawah 0 derajat dan landasan bandara dipenuhi dengan es. Pilot pesawat kapten James Thain dan kopilot Kenneth Rayment mencoba untuk lepas landas, namun gagal – sampai dua kali, katanya akibat kegagalan mesin. Lalu salah satu pemain MU, Duncan Edwards mengirim telegram ke Manchester “ all flight cancelled, flying tomorrow. Ternyata sang pilot menolak untuk menginap di Munich dan akan melakukan percobaan lepas landas yang ketiga.

Beberapa pemain tidak yakin atas penerbangan ini, khususnya Liam Whelan yang terdengar mengatakan “This may be death, but I’m ready”. Sesaat sebelum take off, beberapa pemain MU pindah ke bagian belakang pesawat seperti Duncan Edwards, Tommy Taylor, Mark Jones , Eddie Colman dan Frank Swift.

Pukul 14:56 pilot dan kopilot sudah bersiap-siap untuk lepas landas yang ketiga kalinya. Pada pukul 14:59 mereka mendapat izin untuk lepas landas. Pada landasan pacu, pukul 15:02 kopilot sudah mengecek secara final. Lalu dihubungi oleh menara untuk kepastian take off paling lambat diberitahukan pada pukul 15:04. Lalu mereka pun berdiskusi dan keputusan nya mereka tetap lepas landas pada pukul 15:03

Pesawat pun dijalankan, Kapten pesawat mulai menaikkan kecepatan, mulai dari 85knot lalu pesawat pun mencapai kecepatan 117 knot, kapten Thain mengumumkan V1 dimana batas kecepatan yang tidak memungkinkan membatalkan lepas landas. Lalu panggilan kedua keluar, V2, dimana kecepatan minimum pesawat untuk lepas landas ialah 119 knot. Namun ketika Kapten Thein melirik indicator kecepatan, bukannya naik malah menurun menjadi 112 – 105 knot.

Pesawat pun tergelincir pada ujung landasan, tak terkendali, menabrak pagar bandara, lalu menyebrang ke jalan, sayap pesawat dan ekor pesawat robek karena menabrak rumah, sisi kiri kokpit menabrak pohon, dan sisi kanan pesawat menabrak pondok kayu yang didalamnya terdapat truk berisi ban dan bahan bakar yang akhirnya meledak.
Dari 43 penumpang, 23 diantaranya meninggal (21 meninggal seketika), 8 diantaranya merupakan pemain MU yang antara lain Roger Byrne (28), Eddie Colman (21), Mark Jones (24), David Pegg (22), Tommy Taylor (26), Geoff Bent (25), Liam Whelan (22) dan Duncan Edwards (21) lalu sekretaris klub Walter Crickmer, pelatih Tom Curry dan Pelatih Bert Whalley.

Dengan musibah ini, MU tidak bisa meraih treble winner untuk pertama kalinya. Setelah di Semifinal piala eropa kalah dengan AC Milan dan kalah juga di Final piala FA melawan Bolton.
Busby’s Babes
I’ll see you again my red devil friends
I’ll hear you around my door
Touching my life like so many memories before
I was a child and so easily led
You were the leaders of men
Now I doubt in my life if this ever happens again
Oh how I cried when my mama said
Busby’s babes son, they’re dead
Oh how I remember that miserable day
When something was taken from me
Out on a snow covered runway in West
Germany
Mereka memang telah tiada tapi Mereka tidak akan dilupakan



SUMBER:http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/02/06/tragedi-munich-1958-kami-takkan-melupakan-mu-340070.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar